sp


--------------------------------- info : Pencarian Dokter/Dokter Gigi yang telah teregistrasi di Konsil Kedokteran Indonesia


-------------------------------------------------------
info
-------------------------------------------------------

.

Email : ididepok@gmail.com
Facebook : Idi Cabang Kota Depok
info : Bagi dokter umum anggota IDI Depok yang masa STR akan habis, di harapkan untuk segera registrasi P2KB minimal 6 bulan sebelum masa STR habis ke Sekretariat IDI Depok.

Rabu, 02 Mei 2012

Sosok 1 : Profil Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto SH, SpF, Msi


Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto SH, SpF, Msi bukan dokter biasa-biasa saja. Penulis tetap rubrik Etikolegal di Farmacia ini adalah sosok dokter multidisiplin. Paling tidak dua profesi melekat kuat dalam sosok pria berkacamata ini: dokter spesialis kedokteran forensik dan ahli hukum. Itu di luar ilmu filsafat yang juga ia kuasai. Tidak banyak memang, orang yang mengambil bidang keilmuwan lintas disiplin seperti dirinya. Kebisaannya yang langka, membuat Dr. Agus, begitu pria ini biasa disapa, mudah
meloncat-loncat lintas "pekerjaan". Setelah sempat menjadi Kepala Biro Hukum Departemen Kesehatan, ia memutuskan berpindah ke departemen lain. Kini Agus tercatat sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan HAM di Departemen Kesejahteraan Rakyat.

Kesejahteraan rakyat (kesra), kata pria kelahiran Yogyakarta ini, masih relevan karena mencakup hal-hal yang terkait langsung dengan dirinya. Dua di antaranya, kesehatan dan pendidikan. Sebagai seorang "pejuang" kesehatan, Agus juga sering pendidik. Di sela kesibukannya yang super padat, Agus masih mengajar di almamaternya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meski dekat, tetapi baru kali ini Farmacia berkesempatan menanyakan secara langsung hal-hal yang lebih bersifat pribadi dari seorang Agus Purwadianto. Terutama perjalanan hidup yang menghantarkannya menjadi orang sukses di semua bidang yang ia geluti.
Agus yang dilahirkan 9 November 1954 adalah anak pertama dari pasangan Prof. Drs. Satmoko dan Prof Dr. Retno Sriningsih. Setelah itu berturut-turut lahir ke-9 adiknya kini yang hampir semuanya menjadi orang sukses. Di keluarga.besar ini, kontribusi Agus untuk pendidikan adik-adiknya juga besar. Setelah menjadi dokter umum dari FKUI tahun 1979, Agus bisa mentas bahkan membantu pendidikan adik-adik.
Sebenarnya Agus berniat melanjutkan pendidikan ke jurusan kesehatan masyarakat. ''Tapi waktu itu ditutup karena ada persoalan internal antara jajaran dengan kepala bagian. Akhirnya saya masuk ke forensik,'' paparnya. Setelah spesialis forensik didapat tahun 1983, Agus langsung menjadi staf pengajar di FKUI.
Kelonggaran waktu di antara jam praktek dan mengajar digunakannya untuk aktifitas organisasi. Berawal dari organisasi membuat ia tertarik mendalami bidang hokum. Apalgi spesialisasi forensik yang diambilnya juga memerlukan pemahaman bidang hukum. Terbukti pilihan yang diambilnya terbukti benar bahwa aspek hukum dari kedokteran forensik sangat menonjol. "Padahal, saat mengambil jurusan forensik petimbangan saya antara lain ini jurusan yang kurang populer di mata para mahasiswa kedokteran dan memiliki aspek social," kata salah stu Pengurus Pusat ILUNI-FK ini.
Kuliah hukum ia selesaikan Fakultas Hukum UI selama 3 tahun (1994-1997). Belum cukup ilmu yang didapatnya, Agus pun meraup ilmu sosiokrominologi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI di tahun 2000. Menurut Ketua MKEK Pusat ini, apa yang didapatnya seakan selalu diberi kemudahan oleh Yang Maha Kuasa. Ketika sedang mengambil kuliah hukum, Agus yang saat itu tengah menjabat Pembantu Dekan III di FKUI digugat akibat memberikan skors kepada mahasiswa senior yang melakukan pemukulan terhadap mahasiswa yunior. Bukanyya gentar, Agus justru tertantang untuk mengatasi kasus ini dan pada akhirnya dijadikan judul skripsinya.
Saat mengambil magister kriminologi, sekali lagi Agus dihadapkan dengan kasus yang berkaitan. Kali ini kasus malpraktek. Menariknya, kasus malpraktek yang ia hadapi merupakan kasus teman sejawatnya yang juga seorang Guru Besar FKUI. "Saat itu saya tidak diberi pegangan apapun. Tetapi justru itu membuat saya lebih bersemangat untuk menganalisa," papar peraih Diploma Kedokteran Forensik dari Universitas Groningen, Belanda ini. Kasus malpraktek ini pun kembali berakhir sebagai tugas akhir untuk tesis pendidikan magisternya. Bidang filsafat pelabuhan ilmu selanjutnya. Tanpa kesulitan, ia meraih gelar Doktor Ilmu Filsafat dari Fakultas Ilmu Budaya UI di tahun 2003.



Manusia generalis-spesialis
Perjalanan hidup ayah tiga anak ini ibarat perjalanan seorang manusia. Menurut Agus, pada awalnya manusia itu generalis, selanjutnya mengambil spesialis. Tetapi setelah menjadi spesialis, saat menganalisa suatu masalah yang berkaitan dengan manusia dia akan merasa banyak kekurangan Akhirnya muncul generalis di atas spesialis, yang merupakan generalis tahap kedua. "Hal ini umumnya terjadi di banyak bidang di seluruh dunia ini, terutama bidang-bidang yang menggunakan akal pemikiran dalam aktivitasnya," tambah suami Drh. Hj. Harli Novriani Msi ini. Agus menambahkan, generalis pasca spesialis akan berbeda dengan generalis sebelum spesialis atau pra spsesialis. Karena pada pra-spesialis masih memiliki pemikiran bahwa spesialis lebih baik dari generalis. Dalam masalah-masalah makro atau untuk kemaslahatan umat diperlukan generalis pasca spesialis.
Agus juga amat concern dengan profesionalisme dokter yang berulang-ulang ia dengungkan di berbagai kesempatan saat menjadi pembicara sebuah acara. Menurutnya, pandangan dokter dan profesi kedokteran mengenai tujuan pengobatan haruslah selalu sama dengan pandangan pasien. "Oleh karena itu, konsep profesionalisme sebagai suatu nilai adalah jawaban dari kaum profesi untuk memupuk tanggungjawabnya untuk selalu bekerja demi kepentingan terbaik pasiennya, " ujar Agus yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FKUI, 8 Agustus 2007 lalu.
Bagi Agus, menjadi Guru Besar bukan suatu penghargaan, tetapi merupakan suatu amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhir masa kerja (purna bakti guru besar). Dalam purna bakti itu dipertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan. Tentang keberhasilan ataupun kegagalan agar para yunior dapat belajar dari pengalaman seniornya. " Ketika seorang guru besar itu disumpah maka itu merupakan janji publik dan dari segi forensik janji publik itu nilainya tidak terhingga. Ibaratnya hanya dia dan Tuhan yang tahu untuk mempertaruhkan apa yang dia janjikan dan apa yang ditulis itu adalah benar", tegasnya.
Kini hari-harinya benar-benar disibukkan dengan kegiatan lintas profesinya. Dan itu menyenangkan bagi dokter yang piawai menulis ini. Karena menurut Agus, ilmuwan-ilmuwan sebenarnya kesepian jika hanya berkecimpung di metodologinya sendiri. Ia sudah ia buktikan sendiri, ketika diundang untuk berbagi ilmu hukum misalnya, ia justru diminta berbagi ilmu kedokteran. Sebaliknya, ketika bicara di kalangan dokter, ia lebih banyak bicara tentang ilmu hukum atau filsafat.
Ke depan masih ada harapan besar dalam benaknya. Salah satunya melihat orang yang ada dibelakangnya dapat lebih mudah dalam memahami berbagi metodogi yang telah dia pahami. Karena itu Agus mulai merintis program S3 dalam bidang Bioetika. Saat ini sudah ada 4 orang yang siap untuk mengambil gelar doktor dari program ini. Program S3 ini juga berkaitan dengan pemunculan kompetensi kedokteran yang ke-tujuh yaitu etika kedokteran, hukum kedokteran, hukum dan HAM serta profesionalisme yang selama ini memang menjadi spesialisasinya.
Ayah yang tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anak karena menurutnya tidak bermoral ini juga ingin lebih mendalami agama. Tetapi bagi seorang Agus, spiritual yang berbasis kognitif. "IQ (intelektual quotient), EQ (emotional quotient) dan SQ (spiritual quotient) jelas berbeda. Tetapi menurut saya hal itu tergantung seseorang itu naiknya dari tangga yang mana. Bagi saya yang relevan adalah IQ karena saya dari dunia intelektual," ujarnya.
Maka dalam alurnya menapaki tahapan generalis tahap ketiga, Agus mulai bersiap untuk berdiskusi dengan orang-orang yang arif dan bijak, orang-orang sufi, tukang-tukang becak, dan mengambil kebijaksanaan dari mereka. Tidak ada kata berhenti untuk seorang Agus Purwadianto…

(Sumber : Majalah Farmacia Edisi September 2008 , Halaman: 40)

CV Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto SH, SpF, Msi

         Lahir di Yogyakarta pada tanggal 9 November 1954
         SH (1997) FH-UI, SpF (1983), dr (1979) FK-UI
         Doktor Filsafat (03), MSi Sosio-Kriminologi (2000)
         Diplome of Forensic Med Groningen Univ (2002)
         SpF (konsultan etiko-medikolegal) (2005)
         Gurubesar I.K. Forensik & Medikolegal (2007)
         Ex Kabadan Litbangkes RI (09-10) & Kepala Biro Hukum & Organisasi Depkes RI (2007 – 2009)
         Ketua MKEK Pusat IDI, dosen IKF-ML FKUI/RSCM, Ketua Kolegium IK Forensik Indonesia
         Ex Anggota WHO Global Advisory Vaccine Safety Committee
         Ex Anggota UNESCO Global Ethics Observatory Law
         Anggota Komisi Bioetika Nasional
         Perintis/dosen S3 Kekhususan Bioetika FKUI
         Staf ahli Menkes bid Teknologi Kes & Globalisasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar